Minggu, 14 Desember 2014

Barcelona dan Mitos Tuah Fase Semifinal Liga Champions

Kemenangan Real Madrid atas Atletico Madrid dalam laga final Liga Champions musim 2013/2014 yang lalu selain mencatatkan sejarah La Decima bagi El Real juga memutus satu rangkaian catatan mitos bahwa klub yang berhasil menyingkirkan Barcelona di fase gugur dalam perjalanan menuju laga final akan menjadi juara.

Mitos Barcelona selesai sudah saat Atletico Madrid yang menyingkirkan Barcelona di fase perempat final gagal menjadi juara….demikian yang disimpulkan oleh banyak orang.
Namun jika kita telaah lebih teliti maka sesungguhnya mitos Barcelona ini belum benar-benar berakhir, bahkan mitos ini seakan-akan menemukan pola yang semakin jelas.
Pola yang saya maksud adalah, klub yang menaklukkan Barcelona mempunyai peluang besar untuk menjadi juara Liga Champions dengan syarat klub tersebut menyingkirkan Barcelona di FASE SEMIFINAL…itu kuncinya.

Benarkan demikian?...benar sekali.

Jika anda termasuk penggemar hal-hal yang berbau mitos dalam sepakbola tentu menyadari bahwa sejak musim 2007/2008, klub yang menjadi juara Liga Champions “wajib” menaklukkan Barcelona di fase semifinal.
Urutannya sebagai berikut :
2007/2008 = Juara Manchester United (mengalahkan Barcelona di fase semifinal)
2008/2009 = Juara Barcelona
2009/2010 = Juara Inter Milan (mengalahkan Barcelona di fase semifinal)
2010/2011 = Juara Barcelona
2011/2012 = Juara Chelsea (mengalahkan Barcelona di fase semifinal)
2012/2013 = Juara Bayern Muenchen (mengalahkan Barcelona di semifinal)
2013/2014 = Juara Real Madrid (mengalahkan Bayern Muenchen di semifinal)
Lawan Real Madrid di final, Atletido Madrid mengalahkan Barcelona di fase perempat final atau untuk pertama kalinya Barcelona kandas BUKAN di fase semifinal.
Atletico Madrid menjadi klub pertama yang merasakan kegagalan menjadi juara Liga Champions setelah mengandaskan Barcelona di fase gugur dan catatan ini menegaskan fase semifinal dan Barcelona sebagai “syarat mutlak” untuk memenuhi mitos Barcelona.

Meski terkesan jauh dari pertimbangan teknis untuk kemudian “mewajibkan” Barcelona dan fase semifinal sebagai syarat menjadi juara Liga Champions, keberadaan mitos dalam dunia sepakbola cukup sering mewarnai catatan sejarah di sepakbola eropa.

Tahukah anda mengapa Benfica selalu gagal menjadi juara di kejuaraan Eropa sejak tahun 1962?
Adalah Bela Guttmann, pelatih terakhir yang memberi gelar juara di kejuaraan Eropa bagi Benfica yang “mengutuk” Benfica tidak akan menjadi juara di kejuaraan Eropa selama 100 tahun akibat permintaan kenaikan gajinya ditolak oleh manajemen meski sudah berhasil memberi gelar juara.
Dan mitos 100 tahun itu terbukti dengan catatan sejarah yang buruk bagi Benfica sampai saat ini.
Perhatikanlah bahwa sejak tahun 1962, Benfica sudah 7 kali mentas di laga final kejuaraan Eropa dan selalu gagal juara!!!

Masih kurang yakin?
Jikalau anda seorang Milanisti pasti paham benar mengapa AC Milan selalu ngotot menggunakan seragam putih mereka saat melakoni laga final di kejuaraan Eropa.
Maglia Fortunata…demikian kubu Milan menyebutnya.
Faktanya dari 7 gelar juara Liga Champions yang diraih AC Milan, 6 diantaranya mereka raih saat berkostum putih di laga final.

Begitulah, selalu ada sisi unik dari sejarah sepakbola khususnya di Eropa.
Boleh percaya atau tidak tetapi fakta sejarah menjadi saksi bahwa terkadang hal-hal non teknis bisa memberikan pengaruh dalam menentukan hasil akhir sebuah kejuaraan.
Dengan Barcelona sejauh ini masih berada di Liga Champions maka peluang mitos Barcelona dan fase semifinal terjadi lagi masih terbuka lebar.
Faktanya sejak 2008, jika Barcelona melewati fase semifinal dan berlaga di final maka peluang menjadi juaranya sangat besar.
Disisi lain, klub yang mengandaskan Barcelona di semifinal selalu mampu melanjutkan performanya untuk menjadi juara.
Mana yang akan terjadi? Ataukah akan muncul satu pola pengulangan yang baru? Disinilah salah satu alasan mengapa Liga Champions selalu menarik untuk diikuti.