Minggu, 20 Juli 2014

Menatap Serie A Italia Tanpa Conte

Kapan terakhir kali Serie A Italia menjanjikan persaingan yang sengit sebelum resmi bergulir?
Sejak kasus Calciopoli pada 2006 yang mencabut gelar juara Juventus dan berujung pada degradasi Juventus ke Serie B serta pengurangan poin AC Milan, praktis Inter Milan seperti tanpa lawan untuk menguasai Serie A Italia.
Sejak musim 2006/2007, musim pertama setelah kasus Calciopoli, Inter Milan menguasai Serie A Italia, sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya, bahkan ketika Inter ditukangi oleh pelatih legendaris Italia Marcelo Lippi atau saat Inter memiliki deretan striker tajam sekelas Ronaldo dan Christian Vieri.
Kasus Calciopoli membuka jalan kesuksesan bagi Inter.
Sejak musim 2006/2007, Inter secara beruntun meraih scudetto dan puncaknya adalah di musim 2009/2010 saat Inter mencatat sejarah meraih treble bersama the special one, Jose Mourinho.
Satu-satunya klub yang bisa mengimbangi hanyalah AS Roma yang harus rela selalu bergelar runner up dibawah Inter.
Kejayaan Inter sesungguhnya sangat kontras jika melihat pada satu dekade sebelum kasus Calciopoli mencuat dimana Scudetto Serie A Italia dikuasai oleh Juventus dan AC Milan.
Dalam kurun waktu 10 tahun tersebut hanya Lazio dan AS Roma yang mampu tampil menyela dengan menjadi juara pada musim 1999/2000 dan 2000/2001.
Inter mendominasi Italia saat Juventus masih menyusun kembali kekuatan selepas "diasingkan" ke Serie B dan AC Milan sedang menatap sisa-sisa kejayaan the dream team yang memberikan gelar terakhir berupa trofi liga Champions 2007.
Maldini mendekati akhir karirnya dan Inzaghi sudah menua.
Silvio Berlusconi tampak setengah hati membangun kembali the dream team.
Lengkaplah alasan kemunduran Milan setelah gelar liga Champions 2007.


Lepas dari Mourinho, Inter mulai kehilangan dominasinya.
AC Milan merebut kembali gelar scudetto pada musim 2010/2011 setelah Berlusconi mencoba kembali menghidupkan "the dream team" bersama Zlatan Ibrahimovic, Robinho dan Thiago Silva dibawah asuhan Massimiliano Allegri, salah satu pelatih potensial di Italia saat itu.

Juventus yang sudah kembali dari "pengasingan" di Serie B muncul menjadi pesaing sejati bersama mantan kapten mereka yang beralih menjadi nakhoda tim, Antonio Conte.
Bersama Conte, spirit ala Juve yang pantang menyerah bangkit kembali dan berbuah tiga gelar Scudetto berturut-turut dari musim 2011/2012 sampai 2013/2014.
Empat musim berlalu dan gelar Scudetto hanya diraih oleh Milan dan Juve dimana tiga gelar terakhir secara beruntun direbut oleh Juventus. Era Inter berakhir.
Juventus ganti mendominasi Serie A Italia.

Juventus tampak perkasa saat AC Milan sedang berusaha keras berkompromi dengan kondisi keuangan mereka melalui penjualan satu per satu pemain bintang, mulai dari Kaka, Ibrahimovic sampai Thiago Silva.
Inter Milan sendiri masih dipusingkan dengan kehilangan sosok Mourinho.
Rafael Benites, Gasperini, Andrea Stramaccioni sampai Walter Mazzari belum terbukti sanggup memberikan kejayaan seperti era Mancini dan Mourinho.
Jika dominasi Inter dulu mendapatkan perlawanan dari AS Roma maka dominasi Juventus selama tiga musim terakhir mendapatkan perlawanan dari AC Milan, Napoli dan AS Roma.
Meski demikian, dominasi Juventus tak terbantahkan dimana mereka selalu mengakhiri persaingan sebelum laga pekan terakhir digelar.
Catatan lain yang makin menegaskan dominasi Juventus bersama Conte adalah saat mereka meraih gelar Scudetto tanpa sekalipun kalah pada musim 2011/2012.

Keberadaan Conte sendiri disebut-sebut sebagai aktor kunci keberhasilan mereka meraih dominasi di Italia.
Faktor Conte bagi kesuksesan Juve bahkan disamakan dengan Guardiola bersama Barcelona di liga Spanyol dan Sir Alex Ferguson bersama Manchester United di liga Inggris.
Maka saat Conte mengumumkan pengunduran diri dari Juventus, Serie A Italia boleh saja kehilangan salah satu pelatih terbaiknya tetapi juga memunculkan satu harapan baru bahwa Serie A Italia menawarkan kompetisi yang lebih ketat.
Inilah untuk pertama kalinya sejak kasus Calciopoli mencuat di 2006, Serie A Italia memiliki kandidat Scudetto yang berimbang dan masing-masing mempunyai peluang berhasil nyaris sama besarnya.

Allegri yang dipecat AC Milan kini justru berbalik berada di pihak rival dengan menjadi nakhoda Juventus.
Ingatlah kembali bagaimana Allegri sukses di Milan saat memiliki Ibrahimovic dan perhatikan apa yang terjadi saat dirinya memiliki Carlos Tevez.
Di kubu AC Milan hadir pelatih muda potensial, Filippo Inzaghi.
Sukses menangani tim primavera Milan, Inzaghi jelas bukan Seedorf yang "mendadak allenatore" saat menjadi pelatih Milan kurang dari beberapa hari setelah gantung sepatu.
Inzaghi sejak awal memang disiapkan menjadi pelatih masa depan Milan dan inilah saatnya melihat Inzaghi memoles lini depan Rossoneri yang berisikan talenta hebat seperti El Sharawy, Pazzini, Honda dan Balotelli.
AS Roma menjalani musim kedua bersama Rudi Garcia yang terbilang sukses mengejutkan publik saat menjadi penantang serius Juventus dalam persaingan perebutan Scudetto musim lalu.
Mengejutkan di musim pertamanya, Garcia tampak siap memberi kejutan lebih hebat dimusim keduanya.
Napoli setali tiga uang dengan AS Roma dalam menjalani musim kedua bersama Rafael Benitez.
Keberadaan Hamsik dan Higuain adalah senjata Napoli untuk konsisten di papan atas Serie A musim lalu.
Menarik menunggu efek kedatangan Michu dari Swansea dan makin matangnya Lorenzo Inzigne setelah menjalani piala dunia pertamanya bersama Italia.
Dari sisi kota Milan yang lain, Inter Milan bersiap menjalani musim kedua bersama Mazzari setelah gagal membawa Inter berlaga di liga champions musim lalu.
Musim ini juga menjadi musim pertama Inter tanpa sang legenda Javier Zanetti.
Zanetti pergi dan Nemanja Vidic datang, artinya Inter tidak akan kehilangan pengalaman di lini belakang.
Di lini tengah dan depan mereka masih bisa berharap pada Freddy Guarin yang mencatat sejarah pertama kali ke perempat final piala dunia bersama Kolombia dan Rodrigo Palacios yang bersiap melampiaskan kegagalan di final piala dunia.
Jangan pula lupakan potensi kejutan dari Fiorentina dan Lazio.
Meski sudah lama tidak tampil di tiga besar penghuni klasemen, dua tim ini selalu menyimpan potensi kejutan.
Fiorentina tampil menawan sejak ditangani Vincenzo Montella, mungkin hanya gelar juara yang kurang dari performa apik mereka.
Lazio sendiri masih mengandalkan pengalaman pencetak gol terbanyak dalam sejarah piala dunia, Miroslav Klose.
Peraih Scudetto tahun 2000 ini adalah gambaran klub yang tampak tidak menakutkan diawal musim namun bisa tiba-tiba mencuat ditengah persaingan.

Kepergian Conte ditangisi Juventini, apalagi jika berujung pada kegagalan di akhir musim nanti.
Sebaliknya, kepergian Conte memberi motivasi baru bagi tim lain untuk memanfaatkan momentum suksesi keperkasaan klub sepakbola di Italia.
Seperti saat Juventus mengambil alih dominasi Inter selepas Mourinho meninggalkan Inter, kini semua mata memandang dan menunggu siapa yang berhasil mengambil alih dominasi Juventus selepas ditinggal Conte.
Sedangkan bagi Juventini, mereka tentu berharap Allegri menjadi kelanjutan cerita sukses Juventus bersama Conte.
Sederhananya, musim ini Serie A menjanjikan kompetisi yang lebih seru dan ketat.