Minggu, 19 Oktober 2014

Trio Eropa Melawan Trio Amerika Latin di Laga El Classico

Sesaat setelah Luis Suarez dipastikan berkostum Barcelona, para penggemar bola sedunia langsung membayangkan betapa dahsyatnya lini depan yang dimiliki oleh tim asal Catalan tersebut.
Suarez melengkapi duo Messi dan Neymar yang sudah ada di Barcelona sekaligus membentuk trio latin di lini penyerangan Barca.
Keberadaan Suarez juga menjustifikasi keberhasilan Barca mengumpulkan tiga penyerang paling hot saat ini dari tanah Amerika Latin.
Kebetulan pula ketiganya mewakili tiga negara Amerika Latin paling sukses di Piala Dunia yaitu Argentina dengan Messi, Brazil dengan Neymar dan Uruguay dengan Suarez.
Trio Amerika Latin...itu julukan untuk ketiganya sekaligus sebutan yang dijamin menghadirkan kengerian bagi para pemain belakang di seantero Eropa.

Maka jelas sudah mengapa laga El Classico antara Real Madrid vs Barcelona yang akan mentas untuk pertamakalinya di musim 2014/2015 menjanjikan tensi tinggi dan pertarungan skill berkualitas diantara keduanya.
Pasalnya jika Barcelona memiliki trio Amerika Latin maka Real Madrid sudah lebih dulu memiliki trio penyerangan yang dahsyat dan sudah terbukti memberikan dobel gelar musim lalu berupa trofi Copa Del Rey dan La Decima Liga Champions.
Yap..El Real memiliki trio Eropa dalam diri Cristiano Ronaldo (Portugal), Gareth Bale (Wales) dan Karim Benzema (Prancis).
Kedahsyatan ketiganya masih terus berlanjut di musim ini.
Perhatikan catatan 30 gol Real Madrid di La Liga musim ini sampai pekan ke 8.
Dari total 30 gol tersebut, 22 gol disumbangkan oleh trio Eropa ini (CR7 15 gol, Bale 4 gol dan Benzema 3 gol)...dahsyat bukan.
Bahkan total gol Neymar (8 gol) dan Messi ( 7 gol) hanya sanggup menyamai catatan gol seorang CR7.
Benzema dan Bale sendiri total membukukan 6 assist dan masuk kedalam 10 pemberi assist terbanyak sampai pekan ke 8 La Liga.
Sangat komplit untuk komposisi trio penyerangan yang mematikan.


Lalu bagaimana gambaran laga kedua tim yang memiliki trio penyerangan mematikan ini nantinya?
Satu hal yang menjadi catatan adalah laga El Classico menjadi laga kompetitif resmi pertama Luis Suarez bersama Barcelona akibat sanksi hukuman yang diperoleh di Piala Dunia 2014.
Kehadiran Suarez diyakini akan menambah ketajaman duo Messi Neymar yang makin klop dari laga ke laga.
Suarez sendiri berusaha sedemikian rupa untuk menjaga kebugaran selama tidak terlibat dalam laga kompetitif Barcelona dengan terjun dalam sejumlah laga ujicoba.
Fakta bahwa Suarez tetap mampu apik dalam sejumlah laga tersebut memberikan angin segar bahwa Suarez tidak akan mengalami masalah kebugaran untuk langsung mentas dalam laga yang penuh sorotan.
Meskipun untuk hal satu ini kita masih harus menunggu saat Suarez benar-benar turun berlari mengejar dan menendang bola dengan tubuhnya yang terlihat sedikit lebih gemuk saat ini.
Beralih ke lini tengah, kehadiran Ivan Rakitic sejauh ini mampu menggantikan peran Xavi yang mulai menua dan tampaknya tidak ada masalah serius di lini vital ini.
Problem Barca sesungguhnya adalah di lini belakang.
Bukan...bukan karena ketiadaan Valdes yang mengawal gawang Barca selama bertahun-tahun.
Keberadaan Claudio Bravo sejauh ini tampak bisa menggantikan peran vital Valdes di bawah mistar gawang.
Komposisi lini belakang yang belum solid tampaknya masih menjadi PR bagi Luiz Enrique.
Laga melawan PSG di liga Champions membuka semua borok lini belakang Barca.
Alhasil, bek utama sekelas Gerrard Pique tidak lagi mendapat jaminan starter di skuad utama Barca, sesuatu yang jarang terlihat sejak Pique menjadi tandem sejati Carles Puyol bertahun-tahun lamanya.

Disisi Madrid sendiri tampaknya tidak ada pembahasan serius mengenai kinerja lini depan mereka.
Produktivitas CR7 tampaknya sudah cukup memberikan senyum bagi Madridista.
Meski sumbangan gol Bale dan Benzema belum sehebat CR7 tapi keberhasilan mereka memberikan total 6 sumbangan assist sembari tetap membukukan gol adalah suatu pencapaian yang menumbuhkan optimisme bahwa trio Eropa ini mampu memberikan kontribusi seperti musim lalu.
Di lini tengah, Madrid boleh jadi ditinggal seorang ahli penjaga tempo permainan sekelas Alonso dan seorang gelandang licin yang menjadi pemain termahal MU, Di Maria, tetapi Madrid masih bisa menjaga kualitas sejauh ini dengan keberadaan Toni Kroos dan James Rodriguez.
Problem terkini Real Madrid justru hadir di bawah mistar gawang yang dikawal oleh ikon Madrid selama bertahun-tahun, Iker Casillas.
Penampilan yang mulai angin-anginan (kadang bagus kadang buruk), terutama dengan blunder saat Spanyol ditaklukkan Slovakia memberikan tekanan kepada Ancelotti untuk merotasi posisi kiper kepada Keylor Navas.
Jika Del Bosque akhirnya menyerah pada "hukum alam" untuk sebuah proses regenerasi Iker kepada De Gea, maka sampai kapan Ancelotti bisa membuka mata bahwa Iker (mungkin) sudah melewati periode keemasannya sebagai seorang kiper.
Navas sendiri dipercaya tengah menapaki puncak performanya sebagai seorang kiper yang ditandai dengan penampilan gemilang di laga kompetitif sekelas Piala Dunia.

Terlepas dari sejumlah sorotan permasalahan pada lini belakang kedua tim, sorotan utama yang menjadi headline utama laga El Classico kali ini pertemuan pertama kalinya trio Amerika Latin di Barcelona melawan trio Eropa di Real Madrid.
Siapa yang lebih tajam dari ketiganya?
Saat CR7 dan Messi masih menjadi bintang utama dan tetap menjadi "pemimpin" di masing-masing trio, duo Neymar Suarez dan duo Bale Benzema siap tempur bersama "bintang utama" mereka untuk menentukan trio mana yang paling dahsyat saat ini.
Laga El Classico yang spesial dan pastinya menjanjikan tontonan seru nan menghibur.