Selasa, 28 Oktober 2014

Meraba Potensi Bayern Muenchen di Musim Kedua Pep Guardiola

Kalau anda diminta memilih siapakah yang lebih baik antara Pep Guardiola atau Jupp Heynckes, siapakah yang ada pilih sebagai yang terbaik?
Jika ada memilih Pep maka jawaban anda bisa jadi benar atau juga salah, bahkan ketika anda memilih Jupp Heynckes sekalipun...apa pasalnya?
Siapa yang terbaik diantara keduanya tergantung dari sudut pandang mana melihatnya.

Jika ukurannya adalah jumlah trofi juara yang sudah diraih maka Pep Guardiola lebih baik dengan raihan 18 trofi  berbanding 12 trofi yang diraih Heynckes (data sampai tahun 2014).
Catatan fantastis bagi Pep karena Pep baru memulai karir kepelatihannya pada tahun 2007 dimana Heynckes sendiri memulai karir kepelatihannya pada 1979 atau disaat Guardiola belum mentas di level senior klub.
Catatan yang mengantarkan Pep sebagai pelatih tersukses sepanjang sejarah Barcelona.
Yah...di Barcelona...BUKAN di Bayern Muenchen...setidaknya sampai tahun 2014.

Pep boleh saja sudah memenangi 5 gelar juara sejak kehadirannya di tanah Jerman bersama Bayern Muenchen pada pertengahan 2013 sekaligus mementahkan sejumlah analisa pengamat bola yang meragukan sukses besarnya di Barcelona hanya karena dirinya bermodalkan pemain terbaik dunia Lionel Messi yang didukung deretan pemain terbaik disekitarnya.
Namun jika berbicara prestasi treble winner yang fantastis nan bersejarah bagi Bayern Muenchen, maka semua pendukung Muenchen akan sepakat menunjuk Jupp Heynckes sebagai salahsatu pelatih tersukses yang pernah dimiliki FC Hollywood sekaligus menjustifikasi keunggulan Heynckes dibandingkan Pep.

Jupp Heynckes boleh jadi tidak memberikan gelar bagi Muenchen sebanyak Udo Lattek dan Ottmar Hitzfeld, dua pelatih tersukses Muenchen yang masing-masing memberikan total 10 gelar (Heynckes hanya menyumbang total 5 gelar).
Akan tetapi pencapaian Heynckes bersama Bayern Muenchen berupa gelar treble menorehkan catatan sejarah emas yang mungkin sangat sulit untuk diulangi lagi.
Dan pada poin ini, Heynckes tampak tidak kalah sukses dari Udo Lattek dan Ottmar Hitzfeld.
Saking prestisiusnya pencapaian treble tersebut, kegagalan Pep mempertahankan gelar Liga Champions di musim lalu seakan-akan menutup fakta bahwa Pep meraih double winner berupa gelar juara Liga Jerman dan juara DFB Pokal di musim perdananya...sesuatu yang tidak diberikan Heynckes saat memulai debut melatih Bayern dulu.
Bahkan keberhasilan meraih piala Super Eropa dan Piala Dunia Antar Klub sepanjang 2013 hanya menasbihkan Pep sebagai pengganti yang pantas bagi Heynckes...namun belum dianggap lebih baik daripada sang senior.
Gelar treble yang dipersembahkan Heynckes memang terlanjur dianggap sebagai sejarah yang fantastis.

Alhasil musim kedua Pep di Bayern menjadi salahsatu fokus sorotan sejumlah pengamat bola.
Apakah Pep bisa meneruskan performa positifnya di musim perdana yang berbuah double winner dan meraih hati supporter FC Hollywood diseluruh dunia dengan memenangi gelar liga Champions.
Yah...gelar Liga Champions adalah bukti terbaik yang bisa diberikan Pep kepada supporter Muenchen bahwa era Heynckes sudah selesai dan ini adalah era Pep.
Gelar Liga Champion yang bisa berarti setengah jalan menuju pencapaian treble.
Setengah jalan menuju treble???.....yah..tepat sekali.

Dengan memperhitungkan bahwa gelar Bundesliga tidak lagi menjadi tantangan terberat bagi Die Roten sejak penampilan angin-anginan Dortmund , maka tampaknya tidak ada lagi pesaing berat bagi Robben dkk untuk meraih gelar Bundesliga kedua bagi Pep.
Adapun kejutan yang ditawarkan Borrusia Moenchegladbach, Hoffenheim dan Wolfsburg tampaknya sekedar menambah bumbu persaingan Bundesliga agar tidak berjalan monoton.
Kalau mau jujur, tiga klub tersebut tidak punya sejarah yang kuat untuk bersaing ketat dengan Muenchen. Dortmund adalah pesaing utama Muenchen seperti layaknya keberadaan AS Roma yang menjadi pesaing ketat Juventus di Liga Italia....dan Dortmund saat ini tampak sangat medioker.
Dengan status sebagai tim tertajam saat ini di Bundesliga dengan raihan 21 gol dan hanya kebobolan dua gol sampai pekan ke 9, mungkin hanya takdir Tuhan yang bisa menggagalkan Bayern mengangkat trofi juara Bundesliga di akhir musim nanti.

Gelar Bundesliga sudah...selanjutnya DFB Pokal.
Teorinya sederhana...DFB Pokal berada di bawah Bundesliga untuk level gengsi sekaligus level persaingannya menuju tangga juara.
Jangan samakan DFB Pokal dengan FA Cup di tanah Inggris yang kerap menjadi ladang pembantaian team-team mapan oleh team-team gurem.
Tercatat sejak tahun 2004 atau satu dekade terakhir, Bayern sudah meraih total 6 gelar DFB Pokal dimana empat gelar lainnya diraih team yang memang "punya nama" di kompetisi Jerman.
Atas catatan statistik sejarah ini saja Bayern sudah menjadi juara "secara psikologis"...coba lanjutkan dengan melihat kualitas dan kedalaman skuat yang dimiliki Die Roten.
Rasanya jika Bayern gagal juara DFB Pokal maka koran-koran di Jerman akan memuat headlines yang sama...Force Majeur.
Dengan ambisi untuk meraih treble winner maka rasanya Bayern tidak akan setengah-setengah mengejar kejayaan di ajang DFB Pokal...dan ini adalah berita buruk bagi team yang lain.

Kembali ke turnamen utama...Liga Champions.
Pep sesungguhnya punya potensi besar untuk berhasil di ajang ini.
Raihan dua trofi liga champion bersama Barcelona adalah modal bagus...artinya Pep bukan pelatih kacangan untuk beradu taktik di turnamen paling bergengsi di Eropa ini.
Kekalahan telak musim lalu dari Real Madrid (yang kemudian menjadi juara) bolehlah dianggap sebagai salahsatu proses belajar Pep bersama "team barunya".
Catatan menariknya adalah, sepanjang sejarah memimpin team berlaga di liga Champion, Pep hanya gagal dan kalah dari team yang menjadi juara liga Champion.
Mari kita buka kembali catatan sejarah mengenai kiprah Pep di liga Champion.

Musim 2008-2009 atau musim perdana Pep menangani Barcelona senior.
Pep menjuarai liga Champion dengan menundukkan Manchester United dan melengkapi raihan treble winner di musim perdana yang fantastis.
Lanjut ke musim 2009 - 2010 yang menjadi awal mula perseteruan ketat Pep dengan Jose Mourinho.
Mourinho yang masih menukangi Inter Milan dengan gagah perkasa mengandaskan perjalanan Barcelona dan berujung pada gelar juara Liga Champion sekaligus treble winner nan bersejarah bagi Inter Milan...inilah kekalahan pertama Pep dari team yang kemudian menjadi juara Liga Champions.
Musim 2010 -2011 menjadi pembalasan manis Pep kepada Mourinho yang ganti menangani seteru abadi Barcelona, Real Madrid.
Lewat laga penuh emosi di semifinal, Pep menyudahi langkah El Real dan mengangkat trofi juara di wembley dengan (sekali lagi) menaklukkan Manchester United.
Musim 2011 - 2012 (musim terakhir Pep bersama Barcelona) adalah dejavu bagi Pep saat Barcelona disingkirkan oleh Chelsea di semifinal melalui penerapan taktik "parkir bus" yang seakan-akan mengcopy paste strategi Inter Milan-nya Mourinho saat mengandaskan laju Barcelona.
Chelsea melaju ke final dan menjadi juara...
Ini kedua kalinya Pep digagalkan team yang menjadi juara.
Musim 2012 - 2013, musim perdana bersama Bayern Muenchen setelah rehat setahun.
Pep berada dibawah bayang-bayang kesuksesan Heynckes dan akhirnya takluk di tangan Real Madrid.
Real Madrid melaju ke final untuk menaklukkan Atletico Madrid dan menjadi juara.
Untuk kesekian kalinya....Pep (hanya bisa) ditaklukkan oleh team juara.

Maka dengan segudang catatan positif Pep di liga Champions, Bayern punya peluang bagus untuk berjaya lagi di liga Champions.
Kedatangan Lewadonski dari Dortmund menawarkan sisi penyerangan yang lebih tajam.
Bayangkan pula dua penyerang sayap tajam di kanan dan kiri Lewadonski dalam diri Ribery dan Robben.
Lalu tambahkan duo pahlawan Jerman di piala dunia 2014, Mueller dan Goetze di belakang Lewadonski.
Kemudian perhatikan lini tengah Die Roten yang lebih stabil dengan kehadiran Xabi Alonso.
Pria Spanyol ini melengkapi keseimbangan lini tengah FC Hollywood yang musim lalu tampak hanya mengandalkan Bastian Schweinsteiger dan Toni Kroos.
Di lini belakang, keputusan Lahm pensiun dari timnas Jerman menawarkan kondisi fisik yang lebih bugar dan fit serta fokus yang lebih baik untuk memastikan pencapaian terbaik di level klub.
Kehadirannya bukan sekedar pelengkap posisi kapten tim tetapi juga menjadi tandem terbaik bagi Dante, Alaba, Badstuber, Boateng dan Rafinha.
Lahm juga menjadi mentor, pemimpin sekaligus senior yang tepat bagi pemain lain...sesuatu yang sepertinya hilang di timnas Jerman dalam beberapa laga kualifikasi Euro 2016.
Terakhir dan tidak kalah vital adalah pada pos di bawah mistar gawang.
Manuel Neuer tetap menjadi pilihan utama...bukan hal yang aneh karena dirinya adalah salahsatu penjaga gawang terbaik di dunia saat ini.
Yang menarik adalah pada sosok pelapisnya....Jose Pepe Reina...mantan palang pintu nomor satu Liverpool dan deputi terbaik bagi Iker Casillas dan Victor Valdez di tim tersukses Spanyol.

Nah...dengan sejumlah catatan di atas...rasanya Bayern punya kans sangat besar untuk setidaknya meraih satu trofi di akhir musim...meski pencapaian itu mungkin akan dianggap sangat tidak sesuai dengan level klub sebesar Bayern Muenchen.
Bayern Muenchen bukan klub raksasa lokal seperti Glasgow Celtic yang perkasa di tanah Skotlandia tetapi tampak prematur di level elit Eropa.
Bayern Muenchen adalah salahsatu klub terbaik di Eropa bahkan dunia....artinya keberadaan mereka di Bundesliga (mungkin) hanya formalitas...karena sesungguhnya tempat mereka ada bersama klub-klub hebat penguasa juara liga seperti Real Madrid dan Barcelona di Spanyol, Juventus dan AC Milan di Italia serta Manchester United dan Liverpool di Inggris.