Rabu, 17 Juni 2015

Sinisa Mihajlovic, Akankah Menjadi Eks Inter Berikutnya Yang Sukses Di Milan?


Sinisa Mihajlovic resmi menjadi pelatih baru AC Milan.
Mantan pelatih Sampdoria berkebangsaan Serbia itu menandatangani kesepakatan untuk menangani AC Milan sampai pertengahan tahun 2017.
Mihajlovic menggantikan penyerang legendaris AC Milan Filippo Inzaghi yang gagal mengangkat performa AC Milan di musim 2014/2015 dan hanya sanggup bertengger di posisi 10 klasemen Liga Italia.
Alhasil Milan dipastikan sudah dua musim beruntun gagal tampil di kompetisi Eropa.
Sebuah ironi bagi klub sebesar Milan yang sering melabeli diri mereka sebagai klub dengan DNA kompetisi Eropa….merujuk pada 7 gelar Liga Champions Milan atau hanya kalah dari 10 gelar Liga Champions milik Real Madrid.

Penunjukkan Mihajlovic sendiri sebenarnya sempat dipertanyakan Milanisti terutama saat namanya mulai mencuat bersama Ancelotti dan Unai Emery sebagai calon pengganti Inzaghi.
Ketika nama Ancelotti mencuat sebagai calon pengganti Inzaghi, nyaris tidak ada suara penolakan dari Milanisti.
Selain karena masih terhitung sebagai salah satu legenda AC Milan baik sebagai pemain dan pelatih, Ancelotti juga terbukti bertaji saat menangani AC Milan dengan raihan dua gelar Liga Champions plus tetap terbukti kualitasnya saat menangani klub di negara berbeda.
Chelsea dibawanya meraih double winner Juara Liga Inggris dan FA Cup di musim pertamanya kemudian PSG diantarnya menjadi juara Liga Prancis dan puncaknya saat merebut titel Liga Champions La Decima bersama Real Madrid.
Kegagalan Ancelotti meraih satu trofi pun musim ini dan berimbas pemecatan dari Real Madrid tidak mengurangi kerelaan Milanisti melihat Don Carlo menggantikan Inzaghi.
Maka saat Ancelotti menegaskan keinginannya untuk beristirahat dulu dari menangani klub, nama Unai Emery menjadi hot profile berikutnya sebagai calon kuat pengganti Inzaghi.

Meski tidak mempunyai akar sejarah bersama Rossoneri, Emery menjadi favorit Milanisti atas keberhasilannya mengantarkan Sevilla menjadi juara Europa League dua musim beruntun.
Ditangan Emery, Sevilla juga konsisten menjadi penantang perebutan tiket Liga Champions di La Liga Spanyol.
Singkat cerita, sejauh pencalonan Ancelotti dan Emery terdengar, nyaris tidak ada penolakan bagi keduanya menggantikan Inzaghi.
Inzaghi, bagaimanapun tidak mampu mengangkat prestasi Milan sebagai pelatih tetap merupakan sosok yang disayangi pendukung Milan terutama jika mengingat kontribusi besarnya selama belasan tahun berkostum merah hitam.
Dan untuk sosok yang akrab dipanggil Pippo ini, Milanisti rela jika Ancelotti atau Emery menggantikannya.

Lain soal ketika nama Mihajlovic mulai muncul seturut penolakan Ancelotti dan makin tipisnya peluang mendapatkan Emery, Milanisti mulai menampakkan keberatan.
Selain belum pernah memberikan trofi pada klub yang ditanganinya sebagaimana Ancelotti dan Emery, Mihajlovic juga masih dianggap “sebelas dua belas” dengan Inzaghi sebagai pelatih muda yang masih dalam tahap awal merintis karir kepelatihan.
Satu catatan lain yang membuat Milanisti rada enggan menyuarakan Mihajlovic sebagai pelatih pengganti Inzaghi adalah sejarah Mihajlovic sebagai eks pemain dan asisten pelatih klub rival abadi Milan yaitu Inter Milan.
Tentu bukan pemandangan yang indah bagi Milanisti melihat eks pemain dan asisten pelatih Inter berada di ruang ganti dan bangku cadangan Milan dibandingkan melihat sosok sepopuler Inzaghi disana.
Namun kenyataannya, sosok Mihajlovic yang dikenal keras dalam menerapkan disiplin pada anak asuhannya telah tercatat dalam sejarah Milan sebagai pelatih Rossoneri.
Inilah kenyataan yang harus diterima Milanisti sedunia.
Perpisahan Inzaghi sebagai pelatih Milan kemudian terasa mengharukan.
Seakan-akan dirinya kalah bersaing dengan Mihajlovic yang notabene pernah berseragam Inter Milan dan berjibaku untuk mengalahkan Milan.
Lalu apakah memang Mihajlovic tidak pantas menakhodai klub sebesar Milan hanya karena umurnya sebagai pelatih yang belum seberapa dibandingkan Ancelotti dan Emery atau karena dirinya pernah berada di kubu yang sangat berseberangan dengan Milan?

Mari cermati perbandingan Inzaghi dan Mihajlovic.
Benar bahwa umur keduanya hanya berbeda beberapa tahun dan belum lama merintis karir sebagai pelatih.
Namun berbicara soal pengalaman, Mihajlovic sesungguhnya masih lebih berpengalaman dari Inzaghi.
Jika inzaghi berangkat dari status pelatih tim muda Milan dan kemudian naik pangkat sebagai pelatih tim senior Milan maka Mihajlovic meretas karir sebagai pelatih dengan tahapan yang menurut saya lebih baik.
Mihajlovic memulai peran di ruang ganti dan bangku cadangan sebagai asisten pelatih Roberto Mancini saat keduanya membawa Inter Milan meraih Scudetto.
Setelahnya Mihajlovic juga merasakan pengalaman sebagai pelatih kepala di Bologna, Catania, Fiorentina dan terakhir bersama Sampdoria.
Di musim yang sama dengan masa kepelatihan Inzaghi, Mihajlovic mencatat “prestasi” lebih baik.
Jika Pippo Inzaghi hanya sanggup mengantarkan Milan meraih posisi 10 klasemen maka Sampdoria di tangan Mihajlovic finish lebih baik di posisi 7.
Selain di level klub, Mihajlovic juga pernah merasakan pengalaman sebagai pelatih timnas Serbia.
Jadi terlihat bukan? Mihajlovic memiliki pengalaman lebih mumpuni sebagai pelatih ketimbang Inzaghi.

Adapun mengenai factor Mihajlovic sebagai eks pemain dan asisten pelatih Inter, Milanisti justru rasanya perlu berkaca pada perjalanan karir Inzaghi sebagai pemain.
Masih ingatkan saat pertama kali Super Pippo hadir di Milan? Ya, dirinya adalah eks penyerang rival Milan lainnya yaitu Juventus.
Inzaghi menjadi penyerang yang “setengah hati” dicintai oleh Milanisti saat awal berkostum Milan.
Namun seiring perjalanan waktu, dirinya bahkan bertransformasi sebagai penyerang legendaris Milan.
Masih kurang? Coba perhatikan dua gelandang legendaris Milan di periode tahun 2000-an, Andrea Pirlo dan Clarence Seedorf.
Keduanya datang dari musim-musim yang gagal di Inter Milan.
Apa yang terjadi saat keduanya berada di AC Milan? Pirlo dan Seedorf menjadi pilar delapan tahun kesuksesan Ancelotti bersama Milan yang meraih 2 trofi Liga Champions, 1 Scudetto, Piala Super Eropa dan Piala Dunia Antar Klub.
Jadi sesungguhnya bukan hal yang tabu ketika eks pemain atau pelatih klub rival berbalik menangani tim rivalnya.
Keberhasilan Andrea Pirlo dan Massimiliano Allegri, dua eks Milan di Juventus membuat Juventini melupakan fakta bahwa keduanya adalah mantan personil AC Milan.
Allegri sendiri merupakan contoh paling pas dengan kondisi Mihajlovic saat ini.
Hadir di Turin dengan sambutan penolakan dari Juventini karena latar belakangnya sebagai pelatih Milan, Allegri kini bisa jadi lebih “disayangi” Juventini ketimbang Conte berkat gelar double winner Scudetto dan Coppa Italy dimusim perdana plus keberhasilan lolos ke dinal Liga Champions…..sesuatu yang tidak bisa dicapai pelatih kesayangan Juventini sebelumnya, Antonio Conte.
Jadi Milanisti sebaiknya memberi kesempatan kepada Mihajlovic dan berharap agar Mihajlovic menjadi eks Inter berikutnya yang meraih sukses besar di Milan.