Rabu, 19 November 2014

Menakar Peluang Timnas Indonesia di AFF Cup 2014

Kalau ada yang mengatakan bahwa timnas sepakbola Indonesia adalah tim papan atas di Asia Tenggara maka sebaiknya pertanyakan lebih detail lagi dasar alasannya menempatkan Indonesia pada posisi prestisius tersebut.
Inggris, Jerman, Belanda, Prancis, Italia dan Spanyol seringkali dipandang sebagai tim sepakbola papan atas Eropa, tahukah anda apa persamaan dari keenamnya?
Yah...keenam negara tersebut pernah meraih trofi kejuaraan sepakbola internasional yang bergengsi seperti Piala Eropa dan Piala Dunia.
Inggris boleh jadi belum pernah meraih gelar juara Eropa, tetapi Inggris setidaknya tercatat sebagai salahsatu negara Eropa yang pernah mengangkat trofi Piala Dunia.
Berbeda kasus dengan Belanda, meski tidak pernah meraih titel juara dunia dan terlanjur dicap sebagai sang juara tanpa mahkota akibat tiga kali gagal di laga final Piala Dunia, Belanda adalah salahsatu negara yang pernah mengangkat trofi Piala Eropa.
Jangan tanyakan kepantasan tim papan atas Eropa pada Jerman, Italia, Spanyol dan Prancis, negara Eropa ini adalah kebanggaan benua biru dalam urusan peraih trofi Piala Dunia sekaligus juga pernah merasakan manisnya juara Eropa.
Lalu, jika urusan mengangkat trofi juara turnamen internasional menjadi indikator kepantasan sebuah negara dipandang sebagai tim sepakbola papan atas, dari sudut mana Indonesia layak dipandang sebagai tim sepakbola papan atas di Asia Tenggara?

Sejak bergulir pada 1996, trofi AFF Cup (yang dulunya bernama Tiger Cup) tidak pernah sekalipun mampir di tanah air.
Sebuah catatan tragis jika membuka kembali catatan sejarah bahwa negara tercinta ini menjadi spesialis runner up pada turnamen sepakbola paling bergengsi di Asia Tenggara ini.
Tercatat, tim Garuda menjadi kolektor "gelar runner up" sebanyak total empat kali dimana tiga diantaranya diraih secara beruntun alias hattrick runner up.
Sebuah "prestasi" yang mengenaskan.
Jika kita telaah lebih dalam, artinya Indonesia sudah empat kali merasakan "hampir juara" dan catatan ini seharusnya menyadarkan para pelaku sepakbola nasional bahwa kita tidak pernah...atau dengan bahasa yang sedikit halus...kita belum sepenuhnya belajar dari kegagalan.
Kalaulah kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda maka bagi tim sepakbola Indonesia kegagalan itu adalah "pertanda" kegagalan berikutnya.
Apa yang salah?

Pertama kali timnas Indonesia meraih posisi runner up adalah pada pergelaran AFF Cup 2000 dimana Indonesia ditaklukkan tuan rumah Thailand dengan skor telak 4-1.
Dua tahun kemudian pada pergelaran 2002, Indonesia yang ditukangi Ivan Kolev mempunyai kesempatan revans melawan Thailand di laga final....kali ini Indonesia tampil lebih baik namun harus kembali gigit jari karena ditaklukkan via drama adu penalti.
Memasuki edisi penyelenggaraan 2004, Indonesia tampak berada diatas angin untuk menjadi juara.
Tampil dibawah asuhan salah satu pelatih tersukses di Asia Tenggara, Peter Withe, Indonesia melenggang ke final dengan secara sensasional menaklukkan Malaysia di Kuala Lumpur.
Lawan mereka di final pun bukan lagi sang raja Asia Tenggara Thailand melainkan tim naturalisasi Singapura.
Apa dinyana....Indonesia lagi-lagi gagal setelah dalam dua leg final selalu takluk dari Singapura...yang belakangan menjadi negara pengoleksi gelar juara terbanyak AFF Cup sampai hari ini.
Kesempatan kedua bagi Peter Withe pun malah berbuah penurunan performa yang drastis saat Indonesia gagal lolos dari fase grup AFF Cup 2007.
Tampaknya, tuah kesuksesan Peter Withe selama membentuk Thailand menjadi raja sepakbola Asia Tenggara tidak memberikan dampak gelar juara bagi Indonesia.
Saking frustrasinya, sempat muncul pertanyaan iseng, jika Peter Withe bisa sukses bersama Thailand dan sebaliknya gagal saat menangani Indonesia...apakah itu berarti permasalahan Indonesia terletak di pemainnya?
Belum ada jawaban yang memuaskan atas pertanyaan spontan itu....atau mungkin tidak ada yang bisa menjawab..

Selang tiga tahun kemudian, tepatnya pada AFF 2010...Indonesia kembali bergelora.
Tampil bersama Alfred Riedl...pelatih yang berjasa mengantarkan Vietnam menembus perempat final Piala Asia 2007...Indonesia tampil sangat menggairahkan.
Tidak tanggung-tanggung, Malaysia dibantai 5-1 pada laga awal, Thailand disingkirkan pada laga akhir fase grup dan sang kuda hitam Filipina ditaklukkan dalam dua laga leg semifinal.
Permainan menggairahkan, bintang baru dalam diri Irfan Bachdim dan Christian Gonzales plus euforia suporter sepakbola nasional seakan-akan menuju klimaksnya saat Indonesia dijadwalkan menantang Malaysia di laga final
Melawan tim yang sudah pernah ditaklukkan dan kebetulan pula melawan negara yang terlanjur dianggap sebagai negara tetangga yang "usil"....dan itu terjadi di fase final....bayangan kesuksesan besar sudah terpikirkan.
Apa yang terjadi selanjutnya adalah sebuah tragedi.
Malaysia mendadak tampil trengginas dalam dua leg final dan meraih trofi juara dihadapan ribuan wajah kecewa supporter sepakbola Indonesia di stadion GBK.
Sekali lagi...Indonesia hanya sanggup menjadi "yang kedua"...

Terlepas kontroversi pemberitaan media yang terlalu berlebihan saat timnas AFF 2010 melaju ke final dan menjadikan pemain terlena, timnas sesungguhnya memiliki potensi terbesar juara saat pergelaran 2010 itu.
Karakter permainan, kualitas pemain, dukungan supporter dan kondisi diluar pertandingan adalah seluruh faktor keberhasilan yang sudah berada dalam genggaman saat itu.
Dan Alfred Riedl mungkin menyadari bahwa dirinya sudah "melepaskan" satu momen emas untuk mencatatkan dirinya dalam sejarah sepakbola Indonesia mengikuti jejak Anatoly Polosin...sang pria bule yang memberikan gelar bagi timnas pada Sea Games 1991.
Dan beruntunglah Alfred Riedl mendapatkan kesempatan yang kedua.
Yah....Alfred Riedl mendapatkan kesempatan untuk menuntaskan hasil kerjanya yang nyaris berbuah gelar juara pada turnamen AFF Cup 2010.

Alfred Riedl hadir kembali menangani timnas Indonesia seiring berakhirnya konflik dualisme di tubuh PSSI.
Kehadirannya menumbuhkan optimisme bahwa kali ini sang juru taktik akan menuntaskan penantian Indonesia yang belum pernah sekalipun meraih gelar juara AFF Cup sejak turnamen sepakbola paling bergengsi di Asia Tenggara itu digelar pada 1996.
Status Indonesia sebagai tim kuat di kawasan Asia Tenggara seperti tidak afdhol.
Tidak percaya?
Coba perhatikan daftar juara AFF Cup sejak 1996.
Sejumlah negara yang dikategorikan sebagai tim papan atas Asia Tenggara sudah pernah mencicipi gelar juara.
Mulai dari Singapura, Thailand, Malaysia dan Vietnam sudah pernah mencicipi gelar juara.
Indonesia?....seperti yang disebutkan di awal tadi, kita sejauh ini adalah tim terbaik dalam hal koleksi gelar runner up dengan empat kali posisi runner up.
Lalu bagaimana peluang Indonesia kali ini?

Jika melihat komposisi negara dimana Indonesia berada, maka bolehlah disimpulkan bahwa Indonesia berada pada grup yang "mudah" bersama Vietnam, Laos dan Filipina.
Paling tidak jika kita membandingkan grup dimana sang juara bertahan Singapura bergabung bersama raja sepakbola Asia Tenggara, Thailand dan juara AFF 2010 Malaysia.
Jangan lupakan pula keberadaan Myanmar yang timnas juniornya menjadi satu-satunya wakil Asia Tenggara di Piala Dunia U 20 tahun 2015...sesuatu yang bahkan tidak mampu diraih tim muda harapan kita, timnas U 19.
Perjuangan Indonesia di fase grup mungkin akan lebih banyak berkutat pada bagaimana Indonesia mengatasi tuan rumah Vietnam, memaksakan seri sebagai hasil yang pantas atau sekalian membuat "kejutan" dengan menaklukkan juara AFF Cup 2008 itu.
Setelahnya Indonesia wajib memastikan kejutan semifinalis AFF Cup 2010 dan 2012, Filipina tidak berlanjut pada pergelaran 2014 ini....tiga poin seharusnya menjadi hasil yang pantas bagi tim merah putih
Sisanya, jika tidak terlalu memandang enteng, seharusnya Indonesia bisa mengambil 3 poin dari perlawanan Laos.
Artinya, untuk sekedar melaju ke fase semifinal...entah sebagai juara atau runner up grup, seharusnya Indonesia mampu melakukannya.

Ujian sesungguhnya akan terhampar pada fase semifinal saat Indonesia akan beradu kekuatan melawan salah satu dari Malaysia, Singapura atau Thailand.
Diantara tiga negara tersebut, saya berani memprediksi bahwa Thailand akan berada di fase semifinal.
Era emas Thailand bersama Kiatisuk Senamuang sesungguhnya sudah dimulai dengan meraih medali emas Sea Games 2013.
Keberhasilan Thailand berada pada posisi empat Asian Games 2014 adalah sinyalemen kepada negara Asia Tenggara lain mengenai level terkini Thailand bersama Kiatisuk Senamuang.
Bagaimana dengan negara pendamping Thailand ke fase semifinal?
Saya melihat Malaysia sekarang tidak lagi segarang Malaysia saat AFF Cup 2010...setelah medali emas Sea Games 2011, Malaysia tidak pernah benar-benar tampil layaknya tim papan atas Asia Tenggara lagi.
Singapura sesungguhnya setali tiga uang dengan Malaysia, tanpa Avramovich yang selalu berada di balik empat gelar juara mereka, Singapura belum pernah tampil meyakinkan kembali sebagai tim pengoleksi gelar juara terbanyak AFF Cup.
Kalaulah Singapura mampu melewati fase grup, kiranya faktor tuan rumah menjadi faktor vital untuk keberhasilan itu.
Bagaimana dengan Myanmar?
Keberhasilan tim muda mereka melaju ke final U 20 seharusnya menjadi rangsangan psikologis yang besar bagi seniornya.

Singapura, Myanmar atau Malaysia sejauh ini masih fifty fifty peluangnya untuk melaju ke semifinal.

Dengan komposisi semifinal berisikan Indonesia dan Vietnam melawan Thailand dan Malaysia/Myanmar/Singapura, peluang Indonesia amat bergantung pada bagaimana tim merah putih menjalani fase grup.
Maksudnya?
Keberhasilan menampilkan permainan terbaik sejak fase grup adalah modal untuk menjalani fase gugur.
Cerita AFF 2010 adalah contoh bagaimana ketika Indonesia tancap gas sejak awal dengan membantai Malaysia 5-1 berujung pada tiket laga final.
Terlepas hasil yang mengecewakan di laga puncak, pola tancap gas sejak awal pantas untuk dilakoni.
Dengan keberadaan Sergio Van Diyk yang "masih asing" bagi bek-bek Asia Tenggara...kecuali Thailand..Indonesia punya modal menarik.
Apalagi sejauh ini Christian Gonzales yang menjadi pelapisnya masih belum kehilangan ketajaman.
Tambahkan pula Boaz Salossa yang hadir kembali ditimnas pada gelaran AFF Cup sejak memori debut manis di AFF 2004 yang ,mencuatkan namanya..
Ingat pula bagaimana kontribusi anak muda bernama Boaz saat itu yang masih berumur 18 tahun mengantarkan Indonesia ke final....dan bagaimana kegagalan tim merah putih dikaitkan dengan ketidakhadiran Boaz pada dua leg final karena cedera.
Inilah kesempatan terbaik bagi Boaz memberikan gelar bagi timnas.
Lalu perhatikan pula lini tengah timnas Garuda yang bergairah dengan hadirnya "the rising star" Evan Dimas.
Bahkan seorang Riedl tidak sungkan untuk memuji kapabilitas seorang Evan Dimas.
Tentu ini menjadi modal yang bagus saat bintang muda sekelas Evan Dimas berada satu tim dengan Firman Utina, senior yang "akan digantikannya" sebagai playmaker timnas di masa mendatang.
Tidak cukup dengan "naturalisasi" Gonzales di lini depan, lini tengah dan belakang pun "dinaturalisasi" dengan kehadiran Raphael Maitimo dan Victor Igbonefo.
Dengan makin matangnya alumnus AFF 2010 dalam diri Zulkifly Syukur, M. Ridwan dan Supardi Nasir berpadu dengan debutan penuh antusias dalam diri Manahati Lestusen, Rizki Pora, Immanuel Wanggai, Zulham Zamrun dan Kurnia Meiga, rakyat Indonesia boleh berharap untuk setidaknya melihat tim merah putih mentas di laga semifinal AFF Cup 2014.
Selanjutnya? Mari kita berdoa semoga Alfred Riedl memanfaatkan kesempatan keduanya menangani timnas dengan sangat baik.