Minggu, 31 Agustus 2014

Prospek AC Milan Bersama Inzaghi

Milanisti sedunia sedang diliputi euforia kemenangan telak 3-1 atas Lazio dalam laga awal Serie A Italia musim 2014/2015.
Kemenangan yang sangat melegakan karena sejumlah hal.
Tidak ada yang memprediksikan kemenangan AC Milan bahkan dengan skor telak atas salahsatu tim papan atas Italia tersebut.
Perpindahan kursi pelatih dari Clarence Seedorf ke Filippo Inzaghi memunculkan kekuatiran mengingat rekam jejak Inzaghi yang hanya memiliki pengalaman menangani tim junior Milan.
Kekuatiran yang semakin menjadi saat melihat hasil-hasil laga pramusim AC Milan.
Hanya meraih kemenangan atas tim-tim kecil dan hancur lebur saat berhadapan melawan tim dengan kualitas yang lebih baik seperti Manchester City, Liverpool sampai Olympiakos.
AC Milan tampak belum siap mengarungi musim panjang dan ketat di hadapannya.
Bahkan disaat AC Milan tengah menyusun kekuatan, Mario Balotelli, sosok yang diharapkan menjadi tonggak kebangkitan malah berganti kostum ke Liverpool.
Makin lengkaplah alasan Milanisti untuk kuatir terhadap perjalanan AC Milan di musim 2014/2015.

Keberhasilan meraih Trofi TIM dengan menundukkan Juventus dan Sassuolo sedikit memberikan harapan dan harapan tersebut makin membesar lewat kemenangan telak 3-1 atas Lazio yang membuka kembali asa Milanisti terhadap kiprah klub kesayangan mereka di tangan pelatih baru, Pippo Inzaghi.
Asa yang memang layak untuk dijaga jika merunut kembali pada perjalanan Inzaghi membangun ulang tim yang sudah diberinya dua gelar liga champions sebagai pemain ini.

Inzaghi sejak awal sudah memiliki konsep akan pola permainan yang akan dimainkan oleh AC Milan.
Sebagai seorang mantan striker tajam di eranya, Inzaghi menyukai permainan menyerang dan itu ditunjukkan dengan pemilihan pola 4-3-3 sebagai pola dasar permainan AC Milan dibawah asuhannya.
Menariknya, Inzaghi terbilang konsisten dengan pilihan pola 4-3-3 ini.
Tidak peduli ketika tim nya dipermalukan Manchester City, Liverpool dan bahkan oleh klub yang sejarahnya di Eropa tidak lebih hebat seperti Olympiakos.
Dan sejauh ini tidak ada berita keluhan dari Berlusconi, sang presiden yang dikenal gemar dengan permainan dua penyerang.
Tidak juga kritik dan keluhan dari internal tim. Semua seakan sudah siap untuk menunggu proses yang dilalui Super Pippo.
Dalam hal ini, Inzaghi sudah menang secara psikologis.

Sejak awal Inzaghi mendambakan permainan menyerang dengan dua penyerang sayap mengapit seorang penyerang tengah.
Inzaghi melihat kebutuhan penyerang sayap itu terpenuhi dalam diri El Sharawy, Keisuke Honda, Jeremy Menez dan Mbaye Niang.
Untuk penyerang tengah, Inzaghi memiliki Pazzini dan Balotelli. Nama terakhir berganti menjadi Fernando Torres dan itu tidak mengurangi kengerian yang mungkin diciptakan oleh tridente Milan.
Terbukti, tanpa Balotelli yang baru pindah, Milan mampu menundukkan Lazio dengan skor telak.
Apa jadinya jika Torres sudah ikut bermain?

Terkait soal Torres, kehadirannya menggantikan Balotelli sepantasnya disyukuri jika mengingat inkosistensi Balotelli baik dalam hal performa diatas lapangan maupun sikap di luar lapangan.
Balotelli memang mempunyai skill hebat tetapi sesungguhnya Balotelli belum memberikan bukti nyata atas kehebatannya selain mengantarkan Italia ke final Euro 2012 dan memberikan umpan krusial bagi gol juara Aguero saat Manchester City menjuarai liga Inggris 2011/2012.
Torres? sejelek-jeleknya performanya di Chelsea, ia masih berkontribusi memberikan gelar juara liga Champions 2012 dan juara liga Europa 2013.
Tempatnya di timnas Spanyol pun terhitung awet dan berbuah gelar juara piala dunia 2010, piala eropa 2008 dan 2012.
Hal menarik lainnya adalah kemiripan gaya bermain Torres dengan Inzaghi sebagai predator dalam kotak penalti (minus kemampuan "mencuri" offside).
Soal ini, Antonio Conte sudah memprediksikan kemungkinan Torres akan mampu melebur dengan pola permainan Milan di tangan Inzaghi.
Inzaghi sendiri menyatakan siap untuk mengangkat kembali performa Torres. Klop.

Beres untuk urusan penyerang, Inzaghi juga mendapati barisan pertahanan yang berpotensi lebih baik daripada barisan pertahanan AC Milan musim sebelumnya.
Kehadiran Alex sebagai nama baru di pertahanan Milan melengkapi nama Zapata yang bermain cemerlang bersama Kolombia di ajang piala dunia 2014, kebetulan dalam laga melawan Lazio dua nama ini menjadi duet bek sentral.
Di belakang kedua nama tersebut masih ada Mexes dan Adil Rami, dua punggawa Prancis yang tidak kalah kemampuannya.
Yang paling menggembirakan tentu kemampuan Milan menghadirkan salahsatu kiper terbaik di Eropa (setidaknya menurut Jose Mounrinho) dalam diri Diego Lopez.
Dengan Diego Lopez, Milan tidak perlu pusing lagi dengan performa angin-anginan Amelia, belum matangnya Gabriel atau makin menuanya Abbiati.
Bersama barisan gelandang yang tidak banyak berubah dengan nama-nama seperti Muntari, Essien, Poli dan Christante, Milan boleh berharap setidaknya bisa kembali ke papan atas liga Italia.
Jika Montolivo bisa kembali turun bermain maka Milan boleh berharap lebih setidaknya untuk meramaikan persaingan scudetto.
Jika Inzaghi beruntung, sebagaimana yang sering ditunjukkannya melalui gol-gol "ala kadar" darinya dulu, Milanisti boleh bermimpi tim ini akan membuat kejutan untuk meraih scudetto.