Minggu, 12 April 2015

Berharap Raheem Sterling Cerdas Menentukan Pilihan Karir

Sejak debut Michael Owen di tim senior Liverpool pada tahun 1996, kapan lagi Liverpool memiliki seorang wonder kid dari Inggris yang menarik perhatian klub-klub besar Eropa?
Tercatat sejak kepindahan Owen ke raksasa Spanyol Real Madrid pada 2004, Liverpool praktis lebih banyak mengandalkan pemain-pemain luar Inggris dalam membangun tim..meskipun duo Steven Gerrard dan Jamie Carragher memastikan bahwa tetap ada wakil Inggris di dalam tim.
Bahkan gelar Liga Champions yang dramatis pada tahun 2005 (hampir setahun setelah kepergian Owen ke Real Madrid) tidak lepas dari kontribusi sejumlah pemain asing seperti Xabi Alonso, Milan Baros, Harry Kewell sampai sang penjaga gawang Jerzy Dudek.

Berselang 16 tahun sejak debut Michael Owen di tahun 1996 tersebut, Liverpool memiliki lagi seorang wonder kid dari Inggris dalam diri Raheem Sterling.
Meski lahir di Jamaika, Sterling sejatinya adalah warga Inggris karena tumbuh dan besar di Inggris sejak umur 5 tahun.
Bergabung di Liverpool pada tahun 2010, Sterling hanya butuh dua tahun untuk mendapatkan debut di tim senior pada 2012 saat Brendan Rodgers mulai menangani The Reds.
Sterling lantas menjadi bagian dari kebangkitan Liverpool sebagai klub penantang juara Liga Inggris di musim 2013/2014 bersama Coutinho, Daniel Sturridge dan Luis Suarez yang kemudian berbuah penampilan perdana di Piala Dunia 2014 Brazil.
Lonjakan karir yang cukup cepat ini kemudian mendapat pengakuan penghargaan Golden Boy Award 2014 (semacam Ballon D’Or nya pemain-pemain muda) sebagai pemain dibawah 21 tahun dengan penampilan paling impresif di tahun tersebut.

Gaya permainan Sterling yang mengedepankan kemampuan dribbling dan kemampuan melepaskan umpan kunci memang rada berbeda dengan pemain Inggris kebanyakan yang cenderung bermain dengan gaya permainan text book (terakhir kali Inggris memiliki pemain dengan tipikal seperti ini adalah saat Joe Cole masih berada di puncak penampilannya bersama Chelsea)
Hal ini yang kemudian dikomentari seorang Xavi Hernandez, gelandang legendaris Barcelona bahwa Sterling sangat cocok untuk bermain di kompetisi La Liga Spanyol jika melihat bagaimana kemampuan fisik dan tekniknya.
Komentar yang sepertinya mewakili pantauan klub-klub papan atas Eropa seperti Manchester City, Arsenal, Chelsea  dan Real Madrid yang sangat tertarik mendatangkan wonder kid Liverpool ini sekaligus menegaskan status Sterling sebagai wonder kid terkini dari Anfield Liverpool setelah Michael Owen.
Lalu, dengan bakat sedemikian besar dan potensi yang dijanjikan seorang Sterling, apakah sudah waktunya salahsatu pemain muda Inggris terbaik saat ini mencoba pengalaman yang lebih menantang di luar Liverpool untuk menambah catatan gelar juara dalam curriculum vitaenya?
Cerita seorang Samir Nasri hengkang dari Arsenal ke Manchester City untuk menjadi juara Liga Inggris bersama Roberto Mancini bisa menjadi motivasi yang menarik.
Cerita sukses yang serupa pun ditorehkan seorang Robin Van Persie saat meninggalkan Arsenal ke musuh bebuyutannya Manchester United dan meraih gelar juara Liga Inggris dimusim terakhir Sir Alex Ferguson.

Pertanyaannya sekarang adalah sehaus apakah seorang Sterling terhadap gelar juara disaat banyak pemain muda seusianya di Inggris yang masih sibuk mengejar kesempatan tampil di tim utama, alih-alih memikirkan gelar juara.
Meskipun tidak salah untuk mempunyai ambisi mengejar gelar juara di usia yang masih muda,  namun rasanya akan lebih bijak jika Sterling mau bertahan dan berjuang bersama Liverpool.
Bagaimanapun menariknya tantangan untuk bermain di Real Madrid, salahsatu klub terhebat di dunia dan bermain bersama bintang-bintang sepakbola sekelas Ronaldo, Gareth Bale dan Benzema serta berkesempatan untuk minimal dua kali dalam semusim berduel menghadapi trio penyerang terbaik dari Amerika Latin (Messi, Neymar dan Suarez), Sterling masih jauh lebih membutuhkan waktu untuk bermain rutin dan berkembang bersama Liverpool.
Sesuatu yang mungkin sulit untuk didapatkan Sterling jika berada di dalam team sekelas Real Madrid…tanyakan hal ini ke Alvaro Morata, Juan Mata dan Assier Illaramendi.
Dan sebagai pemain muda yang tengah berkembang, Sterling sangat membutuhkan kesempatan untuk tampil rutin setiap pekan demi memastikan bakat besar yang dimilikinya tidak berakhir di bangku cadangan.

Bahkan kalaupun Arsenal, Chelsea ataupun Man City membujuk dengan iming-iming peluang menjadi juara yang lebih besar.
Bersama Rodgers, reputasi Liverpool sebagai klub besar dan diperhitungkan sebagai penantang juara telah kembali setelah penampilan impresif musim lalu.
Liverpool sendiri masih dianggap sebagai salahsatu klub besar di Liga Inggris bahkan di Eropa jika merujuk pada 5 gelar Liga Champions yang mereka miliki.
Artinya, Sterling saat ini sudah berada di klub besar dengan sejarah yang kuat…..mengapa harus “repot-repot” pindah ke klub lain?
Jika Sterling masih ngebet pindah klub, rasanya pengalaman Michael Owen yang memutuskan pindah ke Real Madrid pada tahun 2004 layak menjadi pelajaran berharga baginya.
Bakat besar Michael Owen harus berakhir dibangku cadangan Real Madrid ketika dirinya mendapati lini serang Real Madrid sudah dihuni sang pangeran Raul Gonzales dan striker terbaik di dunia saat itu dari Brazil, Ronaldo.
Ironisnya lagi, Liverpool justru menjadi juara Liga Champions di musim yang sama saat Owen meninggalkan Liverpool.

Belum cukup?
Banyak yang mempercayai bahwa kepindahan Michael Owen ke Real Madrid menjadi awal mula penurunan karir sepakbolanya.
Tercatat setelah tidak banyak memiliki kiprah dalam kaus putih-putih El Real, Owen pulang kampung ke Liga Inggris untuk bermain di klub “sekelas” Newcastle United.
Sampai kemudian cedera terus mengganggu performanya dan akhirnya gantung sepatu tanpa benar-benar “meledakkan”potensi besar yang dimilikinya seperti saat meraih gelar pemain terbaik Eropa, mengantarkan Liverpool meraih treble winner 2001(Piala Liga, Piala FA dan Piala UEFA) serta mencatat hattrick fenomenal saat Inggris menaklukkan Timnas Jerman di Munich.
Masih ngebet pengen pindah Sterling?