Senin, 16 Maret 2015

Mengapa AC Milan Terpuruk?

Sejak tahun 2011 atau terakhir kali AC Milan meraih gelar juara bergengsi berupa Scudetto 2011 yang kemudian berlanjut dengan gelar Super Coppa Italy, para penggemar AC Milan sedunia (Milanisti) harus melihat team kesayangan mereka terpuruk dari tahun ke tahun.
Dan puncaknya adalah saat untuk pertama kalinya di musim 2014/2015, AC Milan gagal berlaga di kompetisi bergengsi antar klub Eropa, Liga Champions.
Parahnya lagi, untuk sekedar tampil di kompetisi kasta kedua pun (Liga Europa), AC Milan tidak mampu.
Sebuah ironi bagi klub tersukses Italia di Eropa dengan raihan 7 gelar Liga Champions yang sering mengatakan bahwa mereka memiliki DNA Eropa.
Apa yang salah di AC Milan?

Ada tiga factor utama yang menurut saya menjadi penyebab utama keterpurukan AC Milan saat ini.
Yang pertama adalah kebijakan klub terhadap transfer pemain bintang.
Coba cermati bagaimana skuad AC Milan pada periode kepelatihan Ancelotti yang bergelimang gelar.
Ada Nesta dan Maldini di jantung pertahanan.
Ada Rui Costa, Kaka, Seedorf dan Andrea Pirlo di lini tengah mereka…..kombinasi yang membuat mereka mendapat julukan The Dream Team.
Lalu di barisan penyerang, Ancelotti sangat beruntung memiliki duet Shevchenko dan Inzaghi yang sedang dalam puncak perfoma mereka.…terbukti Andriy Shevchenko meraih Ballon D’Or saat bersama AC Milan.
Dengan komposisi pemain bertaburan bintang itu, AC Milan merajai Liga Champions dengan mengangkat trofi juara pada 2003 dan 2007.
Tambahkan pula keberhasilan mereka melaju ke laga final Istanbul di tahun 2005 yang berakhir menyakitkan bagi Maldini dkk.
Di luar trofi Liga Champions, Ancelotti dan team bintangnya juga meraih semua trofi yang mungkin didapatkan….mulai dari Coppa Italy, Super Coppa Italy, Super Cup Eropa sampai Piala Dunia Antar Klub.
Transfer pemain bintang juga menjadi alasan keberhasilan Allegri meraih scudetto dimusim pertamanya di San Siro.
Saat itu Allegri dibekali talenta hebat semodel Alexandre Pato, Robinho, Kevin Prince Boateng, Thiago Silva dan yang paling dahsyat adalah Zlatan Ibrahimovic.
So….jelas sudah…kebijakan transfer pemain bintang Milan saat itu berimbas pada performa juara Milan.
Terbukti, sejak kepergian Kaka pada 2009 yang berlanjut dengan eksodus pemain bintang seperti Ibrahimovic dan Thiago Silva, AC Milan seakan kehilangan jimat juara mereka yang tersemat pada pemain bintang.
Kalaulah Milan memiliki “pemain bintang” dalam skuad terkini, Milan sesungguhnya sedang berusaha mengembalikan kebintangan sang pemain BUKAN mendapatkan pemain bintang.
Torres, Montolivo, Keisuke Honda dan Alessio Cerci adalah gambarang pemain yang “dilabeli bintang” tetapi sejauh ini gagal menjadi bintang yang diharapkan.

Faktor kedua keterpurukan Milan adalah melempemnya kinerja Milan Lab.
Milan Lab ikut unjuk nama sebagai bagian dari keberhasilan era Ancelotti di Milan.
Keperkasaan pemain-pemain yang dianggap sudah menua dalam memberikan gelar juara kepada Milan membawa harum nama Milan Lab sebagai salahsatu Lab klub sepakbola paling berhasil di Eropa.
Bayangkan….pemain sudah berumur seperti Maldini, Costacurta, Serginho dan Cafu mampu menjadi bagian penting dari perjalanan sukses Milan di era Ancelotti.
Sesuatu yang kemudian gagal diulangi oleh Milan Lab saat mendatangkan Ronaldo, Ronaldinho, Vieri dan bahkan menjadi salah satu “tersangka” cedera terus menerus yang dialami Alexandre Pato.
Faktor cedera ini pula yang menjadi alasan mengapa Milan terus terpuruk karena jarang sekali bisa memainkan tim terbaik mereka dari pekan ke pekan.

Faktor terakhir adalah pada nakhoda team atau pilihan pelatih yang menangani team.
Pemilihan Ancelotti sebagai pelatih AC Milan adalah salahsatu replikasi sukses Berlusconi saat menunjuk sosok nirgelar seperti Arrigo Sacchi yang kemudian malah menjadi salahsatu pelatih legendaris Milan.
Kehebatan pemilihan pelatih yang kemudian berlanjut saat Capello menggantikan Sacchi.
Benang merah dari Sacchi, Capello dan Ancelotti adalah mereka bukanlah pelatih dengan deretan gelar bergengsi saat dipilih Berlusconi menangani Milan.
Dan bersama Milan mereka menorehkan catatan emas sebagai pelatih hebat di Eropa bahkan dunia.
Kondisi yang kemudian gagal berlanjut saat Leonardo menggantikan Ancelotti.
Makin parah saat Inzaghi hadir menggantikan Seedorf yang menangani Milan hanya dalam hitungan bulan.
Sejauh ini Inzaghi tidak memberikan impresi signifikan bagi performa Milan.
Dari era Ancelotti, Leonardo, Allegri, Seedorf dan Inzaghi, Super Pippo adalah pelatih dengan raihan poin terendah.
Seedorf yang digantikannya bahkan mencatat raihan poin yang lebih baik.
Atensi khusus perlu diberikan pada Allegri.
Datang dan meraih scudetto dimusim pertama bersama Milan, Allegri sesungguhnya adalah tipikal pelatih yang dicari-cari Milan.
Pelatih yang mampu beradaptasi dengan kondisi internal Milan.
Perhatikan saat Milan harus kehilangan bintang utama mereka Ibrahimovic dan Thiago Silva ke PSG, Allegri mampu tetap menjaga Milan tampil di kompetisi Liga Champions.
Bukan catatan biasa jika melihat bagaimana saat itu Milan tidak memiliki komposisi team yang baik. Terbukti saat Allegri bermaterikan pemain yang lebih baik di Juventus, Allegri meneruskan hegemoni Juventus di Liga Italia.

Nah, dengan keberadaan tiga factor utama keterpurukan Milan tersebut, maka jelaslah bahwa Berlusconi memegang peranan penting untuk membangkitkan kembali Milan.
Apakah transfer pemain bintang akan kembali dijalankan?
Akankah Milan akan mengulangi tradisi pemilihan pelatih “tidak dikenal” untuk meretas sukses bersama Milan?
Terakhir dan tidak kalah penting, menunggu kebangkitan Milan Lab sebagai salah satu Lab. Klub Sepakbola terbaik di Eropa bahkan dunia.